Scroll to top

Setiap hari kita bergantian menatapi bagaimana teriknya sinar sang surya akan bergantian peran dengan sang rembulan di malam hari. Memang begitulah garis kehidupan, selalu ada dua sisi. Ada muda ada tua, ada kaya ada miskin, tak pelak juga selayaknya kisah suka dan ironisnya duka. Ibarat simbol Ying-Yang dalam peradaban Cina kuno dulu. 

Terbukanya Mang Yayat ketika mengisahkan perjalanan kehidupannya sebagai seorang tukang pijat, biasa disebutnya. Justru menjadi alasan sebagai keyakinannya dalam membangun Sembilan Kita hingga hari ini.

Mang Yayat satu diantara ketiga pencetus Sembilan Kita. Dua sahabatnya, Mumu dan Yana juga memulainya dengan profesi serupa. Umurnya memasuki fase akhir 40 tahun. Perangainya memang murah senyum dari balik kacamata minus yang dipakai tiap kesehariannya. 

Entah kebetulan bagaimana garis jodohnya, istrinya pun berprofesi serupa dengannya. Mereka berdua menekuni profesi ini untuk menghidupi sepasang anaknya yang mulai beranjak besar. Satu wanita bersekolah SMA, satu lagi sang adik yang masih di Sekolah Dasar.

Bagaimana Mang Yayat menyibak suka duka perjalanan seorang tukang pijat apa adanya? mungkin kesimpulannya seperti dalam blog ini. Ia menceritakan panjang lebar dalam tim yang dihuni rekan mitra dan anak didiknya yang juga berprofesi sama.

Seseorang dengan profesi yang terlihat biasa dan mungkin rendahan

Seberapa sering kita berasumsi bahwa seseorang yang diberkahi keahlian memijat itu luar biasa? mereka melihat profesi tukang pijat itu sangat biasa, dan bisa dibilang rendahan. 

Mudahnya manusia terbuai dengan ilusi bahwa sebuah profesi pekerjaan itu haruslah sangat banyak harus menghasilkan, yang pekat identik dengan nilai angka dalam jumlah banyaknya uang. Bila melihat sekedar itu, memang jauh. Profesi tukang pijat memang tak membutuhkan gelar sarjana, akan tetapi tak banyak manusia yang mampu memahami bahwa tukang pijat itu sebenarnya harus berpikir dan mempraktekkan keahliannya secara holistik, bijak, dan memiliki pikiran terbuka. 

Tahukah kamu bahwa durasi waktu untuk mengikuti-menyelesaikan permasalahan seputar anatomi tubuh manusia itu membutuhkan 600 jam program studi?

Siapa pula yang berani terbuka dalam pergaulan ketika ditanya apa profesi pekerjaan orangtuanya? ibaratnya itu dipandang sebagai profesi rendahan. Namun mang Yayat tak ingin mengulangi kesalahan ketika dulu ketika ia beranjak dewasa, ia menyampaikan nasihat kepada anaknya bahwa tiap manusia itu memiliki peran yang berbeda-beda dalam garis kehidupan. 

“Sok, apa neng yang terjadi kira-kira lamun semua manusia isinya orang kaya semua? siapa yang rela jadi bawahan atau pembantu?,” ucapnya diiringi senyum setengah tertawa ketika mengulang pertanyaan yang sama ketika dilemparkan kepada anaknya dulu. 

Banyak yang tak mengetahui bahwa profesi terapis pijat, tukang pijat kita biasa mengenalnya. Membutuhkan keahlian yang vital dan mungkin tak bisa lagi dianggap biasa saja atau bahkan rendahan? Kurang lebih keahlian seperti:

Mempelajari teknik berbagai macam pijat dengan keunggulan tertentu. Ada pijat Swedia contohnya, itu adalah teknik pijat jaringan otot tubuh. Sembilan Kita mewajibkan terapi pijat refleksi tubuh sebagai dasar dikarenakan kebutuhan pelanggan kota Bandung. Sementara, ada beberapa dari mitra layanan memiliki teknik pijat yang tak hanya sekedar refleksi tubuh. 

Mereka wajib memahami kompleksnya anatomi tubuh manusia sebagai ilmu dasar. Pentingnya rangkaian kompetensi teruji dan sertifikasi sebagai standarisasi adalah tanggung jawab profesionalitas terapis pijat. Sembilan Kita memastikan bahwa ratusan mitra tergabung mengikuti arahan Mang Yayat dalam organisasi bisnis.

Memahami dan mencari solusi terbaik dari permasalahan anatomi pada tubuh pelanggan tak bisa ditawar. Tukang pijat juga harus memahami cara kerja batin dan teknis harus seimbang. 

Setiap pelanggan itu unik, sekalipun penyakit-keluhannya serupa, namun tak bisa sama. Karena pola hidup dan makan mereka berbeda satu sama lain sehari-harinya.

“Migrain dimana juga namanya sama, kepala pusing. Tapi migrain yang dikeluhin pelanggan umuran 30-an pasti beda dengan yang lebih tua umuran 40 tahunan lebih,” pungkas mang Yayat. Diikuti nasihatnya yang sebaiknya diikuti rekan lainnya di Sembilan Kita, bahwa terapis pijat tak boleh memastikan sebuah keluhan-penyakit dengan iming-iming akan bisa sembuh dengan sekedar pijat saja. Membutuhkan proses holistik (keseluruhan) dalam proses penyembuhannya. 

Pikiran, gaya hidup, dan pola makan-minum manusia-lah yang paling mempengaruhi faktor mudah-tidaknya penyakit itu datang menyerang tubuh.

Anatomi mengajarkan terapis bagaimana otot dari segala bentuk dan ukuran dapat ditingkatkan melalui terapi pijat.

Memahami anatomi tubuh membantu terapis pijat mengidentifikasi kelompok-kelompok otot tubuh. Jadi, memudahkan mereka ketika mendengar keluhan pelanggan. Mereka harus memahami bagaimana otot-otot saling berfungsi dan bagaimana pengaruhnya terhadap satu sama lain. 

Sehingga, ketika pelanggan yang memiliki komunikasi-hubungan dengan ahli medis lainnya seperti Kirokraptor, fisioterapis, osteopati, ataupun pelatih kebugaran (fitness), terapis pijat memahami latar belakang pelanggan.

Dengan mengidentifikasi kelompok otot yang berbeda, terapis dapat fokus pada kumpulan otot tertentu dan menormalkan fungsinya.

 

Bagaimana belajar bersabar dan bersyukur itu tak mudah

Bagi Sobirrin, satu diantara kami di Sembilan Kita menggambarkan bagaimana gundah perasaan dirinya ketika terpaksa berlebaran di Pulau Dewata Bali, kantor perwakilan Sembilan Kita saat sebelum pandemi datang. Tak pulang tanpa membawa sesuatu untuk mereka di kampung halamannya di Pekalongan, ibarat sayur tanpa garam. Ia sudah berusaha, tetapi mungkin ada cara lain nanti. Belajar bersabar dan bersyukur hanya jalan itu yang manusia bisa tempuh.

Terapis pijat tak memiliki kepastian pemasukan gaji bulanan.  Mereka bekerja dan menghasilkan bila ada pelanggan, tak ada kata harian atau bulanan. Ketika kebanyakan orang kantoran di luar sana biasa tersenyum saat akhir-awal bulan, terapis pijat tak bisa seperti itu. Namun itulah suka duka sebuah pilihan.

Saat dalam satu hari tak ada panggilan, mereka berdoa diikuti usaha agar esoknya datanglah rezeki tiba. Satu-dua hari terlewati masih sepi. Mitra Sembilan Kita selalu tetap mencoba berusaha. Kabar buruk tutupnya Go-Life ketika wabah pandemi menyerang, tak semua mitra bisa tegar. Maklum, pemasukan mereka lewat aplikasi, bagaimana ketika itu mati tutup?


Belajar bersabar ketika datang ujian tanpa lupa bersyukur itu sangat tak mudah. Dalam diri terapis tak mungkin tak pernah terbesit rasa iri, bukan dengki. Rasa ingin seperti mereka di luar sana.

Namun itulah garis pilihan kehidupan, semua memang punya peran; persis filosofi mang Yayat bilang.

Alhamdulillah, bersabar dan bersyukur itu bersemayam tetap dalam keyakinan kami Sembilan Kita. Hingga pertengahan bulan November, aplikasi Sembilan Kita di Play Store telah diunduh sebanyak lebih dari 1,557 pelanggan yang kebanyakan warga kota Bandung dan Jawa Barat.

Bagi mang Yayat, doanya tak pernah meminta untuk datangnya penyakit kepada pelanggan. Justru ia berharap sehat dan syukur-syukur ia dipanggil untuk sekedar pijat refleksi tubuh pegal keletihan.

Pekerjaan yang semakin mendekatkan kepada sesamanya.

Karena setiap harinya Mang Yayat berinteraksi verbal diikuti tindakan terapi pijat kepada manusia. Ia semakin paham bagaimana sosok manusia itu seharusnya. Harus lebih banyak mendengarkan tanpa didominasi pembicaraan terapis itu sendiri kepada pelanggan adalah hal tak mudah. 

Menjalani empati bukan sekedar simpati itu berbeda menurutnya. Kalau sekedar simpati tapi kita tak menempatkannya pada kacamata pelanggan, yang ada hanyalah kepedulian yang sekedar basa-basi menurutnya. 

Seorang tukang pijat itu sudah siap terima ketokan pintu atau panggilan tetangga lingkungan rumah kapanpun disaat mereka darurat membutuhkan. Seringnya Mang Yayat mau tak mau menyudahi mimpi indahnya yang baru saja dimulainya tengah malam, terpaksa berakhir karena tetangga lingkungan rumahnya memanggilnya karena darurat. 

Bila berbicara angka, maka tak bisa sepadan dengan situasinya mungkin. Namun mang Yayat selalu mengarahkan pikirannya ketika mulai meracau tak jelas ke arah negatif, dikembalikannya lagi positif. Membantu dengan menjadi manfaat satu aturan yang dirasa Sembilan Kita harus menjadi satu nyawa melekat dalam benak mitra ketika proses kehidupan berjalan.

“Cai Karacak Ninggang Batu Laun Laun Jadi Dekok.”

Kesungguhan dan kerja keras ibarat tetesan air yang semakin lama akan melubangi lapisan batu yang keras.

Bukankah kegagalan itu hanya satu-satunya jalan ketika kita tak kuat lagi berusaha dan memilih menyerah? karena kemenangan bukanlah sekedar tujuan kami, namun kewajiban kami di tengah pandemi adalah berjuang. Demi menjadi sebuah manfaat bagi sesama, mitra dan pelanggan kota Bandung. 

Hatur nuhun atas kepercayaannya di Sembilan Kita. Apa yang kami perbuat telah dipercaya lebih dari 1,557 pengunduh di Google Play Store.

Pesan sekarang, karena hanya 75ribu/jam untuk layanan body massage berpengalaman!

 

 

Author avatar
Sembilan Kita
https://sembilankita.com

Post a comment