© 2020, Sembilan Kita. Berbagi Manfaat Kehidupan by Dream Team Pradana.

Repotnya Mencari Jasa Kebersihan Rumah

“Bingung aku tuh yah, dulu jaman masih ada GoLife sih biasa sekali klik, datang dah,” keluh Nova sepulang belanja mingguan bersama Niko. Ia merasa hari ini kebingungan melanda, apalagi mereka berdua dikenal sebagai pelanggan setia perihal jasa kebersihan rumah via daring (online). “Hari ini, malah dibuat bingung, ketik jasa kebersihan rumah, yang keluar malahan iklan yang aku sendiri gak tahu dan gak pernah coba,” jelasnya lagi. Menggerutu di sore hari seminggu belakangan ini memang hal lumrah didengar Niko, sang suami. Mereka berdua telah menikah selama lima tahun lebih dan dikaruniai Deo, yang menginjak tahun ketiga umurnya. Masa dimana lagi lucu-lucunya orang bilang, sekaligus lumayan merepotkan karena kelincahan dan keaktifannya. 

Memang, ketika pandemi melanda dan ditutupnya GoLife, mencari jasa kebersihan di kota Bandung tak bisa sembarangan. Pernah Nova memesannya via salah satu situs, justru tindakannya itu mengakibatkan rusaknya sofa dan beberapa perabotan kesayangannya hilang. Hanya trauma yang membekas dalam persepsinya. Ketakutan mencari jasa kebersihan rumah untuk rumah kesayangan mereka berdua ibarat menghadapi ganasnya virus di musim pandemi begini. 

Niko hanya tersenyum kecut melihat tingkah kelakuan sang istri tersayang. Permasalahan repotnya mencari jasa kebersihan rumah via online ini entah keberapa kali ia mendengarnya.  Ia sudah hafal betul karakter wanita yang dulunya adalah adik kelas semasa di bangku sekolah menengah atas unggulan kota Bandung. Namanya juga wanita, urusan verbal tingkatannya berkali lipat di atas kaum pria. Begitulah asumsi pria yang berprofesi di dunia periklanan. Sebagai anak periklanan, Niko jelas mempelajari bagaimana psikis wanita itu mudah takut, bila tak segera ditengahi lewat cara berpikir rasional.

Teman lama, memasak, dan berbicara jasa kebersihan rumah

Beberapa piring sudah tersedia di atas meja dapur, ada yang sudah terisi dengan bahan-bahan mentah siap masak sementara sisanya masih dalam kemasan plastik. Bunyi mesin motor terdengar mendekat ke arah rumah mungil tipe 72 meter persegi di pusat kota Bandung. Setelah melepas helm motor milik si pengendara ojek daring, wanita itu pun memanggil lantang, “Assalamualaikum, Nova, Niko,” diiringi ketukan pada daun pintu. “Waalaikumsalam, sok masuk Nita,” sambut Niko yang kebetulan sedang menikmati akhir pekan di ruang keluarga bersama Deo. Pintu bermotif minimalis dibuka perlahan, dipersilahkan masuk.

Wanita dengan potongan rambut berponi, berkaos putih dilengkapi jeans berwarna biru gelap itu menerima ajakan Niko untuk masuk. Tanpa disuruh, Nita melepas masker, menyemprotkan hand sanitizer dan meminta izin untuk segera ke kamar mandi. “Niko, punten aku mau ke kamar mandi boleh?,” izinnya penuh sopan dibalut senyum ginsul giginya. “Nya, sok atuh, kaya baru kesini aja Ta,” timpal Niko setengah bercanda. Di dalam dapur, Nova makin sibuk terburu-buru, seperti tak ingin terlihat tidak siap dengan acara memasak mingguan seperti biasanya.

Seharusnya acara menjelang siang itu adalah memasak, ritual mingguan yang mulai aktif lagi ketika pandemi, tapi entah angin apa; ujug-ujug Nova menjurus jauh bertanya urusan jasa kebersihan rumah, “Ta, info dong layanan jasa kebersihan rumah yang mendingan tuh apaan sih?!,” Sontak Nita kaget, perkara memasak kok malah ditanyakan urusan jasa kebersihan rumah pikirnya. Nita menggeleng heran, matanya memincing, alisnya mengkerut, “Aya non yeuh, tetiba kamu teh bahas urusan jasa kebersihan rumah? hari ini pan masak-memasak kita, Cyn.” jawabnya.

Ritual mingguan di dapur itu pun mulai berjalan, dari Nita pula Nova sanggup menambah ilmu memasaknya menjadi lebih variatif ketimbang dulu. Waktu menunjukkan hampir jam sebelas siang. Dalam satu jam kedepan makanan sudah harus siap sebelum Niko datang ke dapur untuk meraung kelaparan meminta makan. Perutnya yang semakin membuncit membutuhkan asupan nutrisi. Semua bumbu sudah diracik, resep Ayam Ungkep pun memasuki tahap akhir, memasukkan potongan ayam agar segera dikukus. Dirasa ada waktu bersela, Nova lagi-lagi mengajukan pertanyaan sama seperti sebelumnya tadi, “Ta, udah hampir seminggu nih aku asa repot mencari jasa kebersihan rumah kisaran Bandung. Dulu mah aya GoLife da,” mulainya duluan. “Loh emang yang kemarin kamu dapetin dari Google kumaha?” tanya Nita balik. “Ah, murah sih emang, tapi ujungnya sofa jadi bladusan, belum lagi tumbler di dapur kok ilang dua biji!” timpalnya. Nita yang mendengarnya pun ikut ketakutan. Ikut kalut merasakan apa yang sahabatnya rasakan itu.

“Dah coba Sembilan Kita?,” ujar Nita bernada pelan. Memahami karakter sahabatnya itu agak risih bila dibalas dengan nada tinggi. Nova yang sedang membersihkan bekas bumbu tercecer di lantai, segera berbalik arah ke hadapan Nita, pertanda ia ingin serius mendalami pembicaraannya. “Naon eta?,” tanyanya penasaran. “Eta, si Romi kemarin dapat info dari teman kantornya. Sebenarnya temannya mah pesan pijat online karena cangkeul kerja WFH, eh ternyata ada jasa kebersihan rumahnya juga,” jelasnya mudah. “Trus?,” tanya Nova lagi. “Yah, terus-terus, nabrak! Yah aku cobalah, lagian si Bibi kan udah tua, PPKM gini mending si Bibi pulang ke Garut kan?, biar aku yang dirumah urus anak suami. Hitung-hitung hemat biaya operasional rumah,” pungkas Nita cukup detil.

(Bersambung)

Author avatar
Sembilan Kita
https://sembilankita.com

Post a comment