© 2020, Sembilan Kita. Berbagi Manfaat Kehidupan by Dream Team Pradana.

Si Pemberantas Tungau Kota Bandung

Lampu kecil di pojok kanan atas itu berkedip, tandanya telah masuk notifikasi. Diiringi nada bip menyusul dari smartphone pabrikan asal Cina. Belum selesai ia bergumam mengucapkan pesan, senyum kecil merekah dari wajah pria berambut tipis beranak dua itu. Alhamdulillah. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Gayung pun bersambut, belum selesai letih hari ini ternyata sudah ada rizki menanti. Ingin segera menyambut esok, Dede memutuskan untuk tidur cepat, menanti pagi. Dede adalah mitra penyedia jasa kebersihan rumah sekaligus pemberantas tungau!

Dede adalah pemberantas tungau kota Bandung.

Sudah dua tahun lebih sedikit Dede telah memutuskan beralih profesi menjadi mitra penyedia jasa kebersihan Daddy Super Clean. Salah satu layanan premium Sembilan Kita, layanan kebersihan yang menyediakan pembersihan rumah dan isinya lewat hydro vacuum, wet cleaning, dan metode profesional semacamnya. Apalagi berbicara urusan tungau, kutu kasur, atau sejenisnya. Dede adalah pemberantas tungau se-kota Bandung! Fasih adalah nama tengahnya, keapikannya dalam menganalisa sampai mengeksekusi berbagai medan tempur urusan pemberantasan tungau sudah dienyam lewat berbagai pengalamannya. Ia berakselerasi melesat secara otodidak lewat bantuan pelatihan standarisasi. Melesat seperti roket terbang yang siap menggapai luar angkasa!

Pria yang cuma memiliki ijasah SMA beranak dua itu kini memiliki jadwal yang cukup padat di tengah pandemi begini. Tanpa bermaksud mensyukuri musibah, namun bukankah selalu ada berkah dibalik semua perkara dunia? Jangan salah, hari-hari kelam Dede sebelumnya bahkan pernah tak pernah mendengar bunyi notifikasi pesanan hingga berhari-hari. Kalut hatinya jatuh bangun kala itu sudah biasa dianggapnya.

Namun beberapa bulan belakangan ini, Daddy Super Clean memang kebanjiran pesanan di atas rata-rata. Wajar memang bila mengingat kekhawatiran publik perihal kebersihan menjadi sebuah keharusan di hari ini, bila ingin menikmati hari-hari di masa depan.

Pemesanan pagi untuk Sarijadi.

Orangtua Dede dulu pernah bilang, bahwa pagi hari adalah momen terbaik menjadikan doa dan harapan menjadi kenyataan lewat perbuatan. Sebuah perbuatan yang dirangkai rapih dalam konsistensi, yangdisebut sebagai sebuah pekerjaan. Pekerjaan yang telah menjadi mata pencaharian sekaligus periuk nasi bagi keluarga Dede. Mencium kening sang istri adalah tanda Dede berpamitan, ia menuju bilangan Antapani untuk berkumpul dahulu. Sebuah rumah yang memang dijadikan markas bagi para mitra Daddy Super Clean sebelum memulai ataupun menunggu pekerjaan.

Menyeduh dan menyeruput kopi dengan sepiring bala-bala Mang Usen yang selalu dibeli lewat hasil urunan (patungan) adalah ritual Dede dan kawan-kawan.

Sesosok pria tambun mengenakan jaket segera turun menghampiri mereka. Namanya Wisnu, pria yang mengawasi alur kinerja para mitra penyedia jasa kebersihan Daddy Super Clean. Suara riuh bersahutan di dalam ruangan semakin riuh ketika Wisnu menyapa mereka dengan gaya hangatnya penuh canda. “Sisain atuh bala-balana buat saya, hahaha!,” celotehnya sembari tertawa. Tanpa tendeng aling-aling mereka menyodorkan sepiring bala-bala yang tersisa. Bergerak cepat tanpa menaruh tasnya lebih dulu, Wisnu berlanjut “Ok, hari ini Dede-nya, Sarijadi jam sembilan! udah saya konfirmasi yah tadi malam? Siap cuss berangkat ke Sarijadi-nya, pelanggan menanti!.” Dijawabnya sigap “Ashiappp, saya jalan ayeuna. Ok, motor tempur juga siap! Semua tos disiapkeun kang.” Semuanya berbicara serius tapi penuh canda, bukankah memulai pagi harus dibarengi hati yang senang, riang karena canda bukan gundah gulana?

Nikmat mana yang engkau dustakan pikir mereka. Apalagi bila bernasib manis seperti Dede yang sudah memiliki pesanan sejak malam harinya untuk di pagi ini. Motornya sudah berlalu cepat dari markas, dalam hitungan detik Dede tancap gas.

Perjalanan tak terasa sudah berlalu kurang lebih dua puluh menit, bermula dari Bandung Selatan menuju kawasan Utara. Raut mukanya sedikit kebingungan, ingatannya luntur ketika mencoba mengingat-ingat bagaimana kawasan daerah Sarijadi. Kantung celananya terpaksa dirogoh untuk mencari gadget-nya. Gawai yang selalu didominasi pertandingan demi pertandingan sebuah klub bernama Persib, satu klub sepakbola yang menjadi harga mati bagi Dede dan kawan-kawan di markas Daddy Super Clean acapkali disiarkan via streaming televisi.

Ketika bangungan megah bertuliskan Rumah Sakit Hasan Sadikin di hadapannya, akhirnya rekaman memorinya tiba-tiba menguat, “Nah, iyeu Hasan Sadikin!” timpalnya bergumam menandakan bahwa tujuannya hanya akan menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit kurang lebih. Patokan terakhir yang disebutkan sang pelanggan adalah pasar Cibogo Atas, berarti Dede tinggal mencari tempat itu dan dipersilahkan menunggu. Agar tak lebih membingungkan dirasa sang pelanggan, maka Dede akan dijemput. Seorang anak muda kisaran tiga puluhan segera mengangkat sebelah tangannya, menandakan agar segera masuk ke tempat parkiran. Tempat peperangan Dede adalah sebuah Rumah Susun Sarijadi, populernya dikenal flat Sarijadi bagi urang Bandung.

“Assalamualaikum Ibu, punten,” ucap Dede sekaligus kalimat pembukaan. “Waalaikumsalam Kang, sok mangga,” balas Ibu Aida, orangtua si pemuda yang menjemput Dede di depan. Suasana ruang tamu riuh hingar bingar, karena kehadiran sang cucu si Ibu yang sedang liburan menjenguk neneknya. “Iyeu, kemarin abis beberes kasur, kok ternyata banyak kutu yah. Ya saya cari di Google, eh muncul Sembilan Kita Daddy Super Clean,” jelas si Ibu hangat. Disusul tawaran apakah mau kopi atau teh untuk menemani Dede bekerja nanti. Sudah pasti kopi hitam kental dengan sedikit gula menjadi minuman energi baginya.

Pekerjaan segera dimulai dengan mempersiapkan senjata perang Si Pemberantas Tungau. Dede meminta izin agar beberapa benda pribadi milik si Ibu agar dirapihkan lebih dulu, meminimalisir takut terjadi apa-apa. Sementara bocah dan teman mainnya sudah pasti antusias melihat berbagai benda-benda unik yang menarik perhatian mereka. Yah, namanya juga anak kecil, kehidupan mereka sudah pasti penuh fantasi.

Peralatan tempur Si Pemberantas Tungau, Dede.
Perlengkapan Dede sebelum memulai pertempuran, sementara bekas gigitan tungau terlihat jelas.
Dede Si Pemberantas Tungau in action.
Si Pemberantas Tungau ketika memperlihatkan hasil pembersihannya

Pekerjaan Dede lagi-lagi tak bisa mengalahkan perhatian sekumpulan bocah dan sang cucu si Ibu, bolak-balik mondar-mandir mereka seperti tersihir lewat bunyi mesin hydro vacuum pegangannya. “Aduh Al, jangan diganggu Mamangnya lagi kerja. Yuk, main di sini aja.” ajak ibunda yang juga menantu dari Ibu Aida.

Kotoran tungau dan kawanannya diberantas Dede
Sentuhan Dede setelah mengeksekusi matras ukuran Queen

Pengerjaan sudah hampir satu jam, fase pengerjaan berarti memasuki babak akhir. Apa yang telah dilakukan Dede pagi itu dirasa lebih dari cukup bagi Ibu Aida. Tak ingin melihat Dede terus-terusan bekerja, tibalah tawaran untuk menyeruput kopi yang telah dihidangkan sejak awal kedatangannya.

Kopi kental hitam yang terasa manis ketika Dede merasa lelah.
Proses konfirmasi dan kesepakatan kedua belah pihak bahwa pengerjaan telah selesai

Ketika rasa penasaran si Ibu yang diucapkan lewat pertanyaan, adakah kekhawatiran bagaimana nasib pekerjaannya di masa depan nanti? mengingat situasi semakin pelik dengan tekanan ekonomi menghimpit, jawabnya Dede lagi-lagi begitu adanya sembari diikuti gelak tawa.

“Bu ceunah pelem Laskar Pelangi mah, menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga. Bersyukur aja bu pada Yang Kuasa, masa enya Dia teu karunya sama saya?.” jawaban terakhir sekaligus penutup, ia pun berpamitan pulang.

Dede pun berpamitan untuk segera berlabuh ke rumah pelanggan berikutnya

Author avatar
Sembilan Kita
https://sembilankita.com

Post a comment